Tampilkan postingan dengan label RUNWAY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUNWAY. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 16, 2008

Date ; Jumat Subuh, 27 April

Dalam peperangan medis yang tak kunjung usai
Berusaha menahan perihnya anugerah yang datang
Berpeluh dalam perjuangan
Setumpuk harapan dalam nafas yang tersenggal
Mati setelahnya bahkan tak terbayang
Jiwa dan raga disumbangsihkan
Somoga kelak tiada kedurhakaan

Kosong

Disebuah lapangna mega, di tengah-tengah kerumunan, dalam ruang tersekat, dalam keriangan, dalam kesedihan, dalam tidur lelap, dalam kemasyuran, dalam cinta, dalam kemuliaan, dalam berbicara, dalam berjalan, dalam duduk, dalam termenung, dalam tersenyum, dalam tertawa, dalam berlari, dalam sakit, dalam kemiskinan, dalam kemewahan.

Entah Kenapa Hari Ini

Berdiri di ketinggian, kulihat kebawah jalanan tampak ramai. Kendaraan dan manusia lalu lalang. Kulihat keatas, kutatap langit sangat cerah. Panasnya matahari merasuki. Di kejauhan tampak lautan biru begitu indah.

Teringat masa sekolah dulu. Masa remaja kuhabiskan dengan bahagia.

Di ketinggian dalan ruangan lantai sembilan sebuah perkantoran. Aku melihat luar. Awang- awang dulu terus kuingat. Karena itu membahagiakan.


Kantorku, 17 Des 08

Minggu, Desember 14, 2008

Pena, Komputer dan Deadline

Setumpuk kekujuran dan tulus,segerbong kemunafikan, sebongkah pejilatan, segenggam obsesi, sepiring haeapan, secawa kemalasan, segelas kebodohan, setitik keberuntungan.

Rabu 6 Juni, 60 menit detik ke 6

Tersudut dalam satu ruangan, bertemu di kemasgulan,tak ada yang tahu, tak ada saling mengenal, bertaut dalam keterasingan, berpeluh dalam nafas berdebu, terengah, bertarung tanpa ketulusan, tanpa penyesalan.
Sudah terbiasa Sang Prima dan Sang Dona dalam kehampaan, frustasi dalam iringan, rasa sakityang tak kunjung usai, hingga berakhir pada dendam dan seteguk kesesatan.

Sabtu, Desember 13, 2008

Dear yellow...


Dear yellow..
Aku adalah sang kelabu,dahulu aku adalah sang putih,lalu mereka mengenalku sebagai sang biru.dan hari ini aku adalah sang kelabu. Kuharap engkau masih bisa dan masih mau untuk mengenalku atau hanya sekedar mengingatku.
Dear yellow..
Yang kuingat tentang mu adalah pancaran eksklusifitas kecerian, kepedihan yang teramat megah yang kau tutupi dalam semilyar senyum nan menawan.Oh,sang yellow sungguh aku berada dalam cawan rindu yang teramat dalam.
Dear yellow..
Maaf kalau aku baru bisa melukis kata setelah sekian lama kita dalam keheningan yang bertolak belakang.Ceritaku pasti seperti biasanya,tidak ada yang utama dan terkadang terasa sangat membosankan.
Dear yellow..
Menurutmu,apakah setiap harfiah itu punya nurani,apakah setiap harfiah punya jiwa yang meng-insani,apakah semua harfiah itu bebas mencari semu nya kelangkaan hati dan dan ambigu hidup yang cenderung tidak berarti.
Dear yellow..
Ketika menjadi putih dulu,aku tidak mengenal hitam.Ketika menjadi biru dulu, aku tidak mengenal jingga, dan ketika menjadi kelabu dulu aku dapat mengenal pelangi.bukan kulihat tapi kurasa.
Dear yellow..
Dalam rasaku aku dapat menghirup aroma bunga dan semilir angin syuga.Dalam rasaku sebagian yang lain aku dapat menghirup wewangian emosi yang sangat menyengat indra penciumanku, aku dapat menghirup kesemerbakan kecerobohan dan egoisme yang benar alami.oh…sungguh insan yang paling murni.
Dear yellow..
Suatu hari kutanya pada Yang Esa, “ apa ini yang disebut perjalanan sebelum aku tahu siapa engkau wahai Yang Esa “?. ‘’Apa ini isi dari karyamu’’? Karya peralihan dari Adam dan Hawamu?Dan Yang Esa tidak menjawab..tidak dengan bisikan sekalipun!!!
Dear yellow..
Jawaban terus kupikirkan sendiri,mandiri untuk mencari jawaban dari pertanyaan bodohku untuk Yang Esa.Hariku lelah mencari jawaban,masa ku sebagian hilang, nyaris lunglai tenggelam dalam pertanyaan.
Dear Yellow..
Rasanya aku ingin tertawa sekencangnya,teriak dan bersorak yang jauh dari merdunya suara sang primadona.hahaha..Apakah kau tau jawaban itu? Jawabannya ada dalam sanubarimu,sanubariku,sanubari setiap hakiki. Di sepanjang perjalanan sampai tidak ada nadir sebagai sang penyetir.

Jakarta Cerah, 31 Oct 2008