Sabtu, Desember 13, 2008

Dear yellow...


Dear yellow..
Aku adalah sang kelabu,dahulu aku adalah sang putih,lalu mereka mengenalku sebagai sang biru.dan hari ini aku adalah sang kelabu. Kuharap engkau masih bisa dan masih mau untuk mengenalku atau hanya sekedar mengingatku.
Dear yellow..
Yang kuingat tentang mu adalah pancaran eksklusifitas kecerian, kepedihan yang teramat megah yang kau tutupi dalam semilyar senyum nan menawan.Oh,sang yellow sungguh aku berada dalam cawan rindu yang teramat dalam.
Dear yellow..
Maaf kalau aku baru bisa melukis kata setelah sekian lama kita dalam keheningan yang bertolak belakang.Ceritaku pasti seperti biasanya,tidak ada yang utama dan terkadang terasa sangat membosankan.
Dear yellow..
Menurutmu,apakah setiap harfiah itu punya nurani,apakah setiap harfiah punya jiwa yang meng-insani,apakah semua harfiah itu bebas mencari semu nya kelangkaan hati dan dan ambigu hidup yang cenderung tidak berarti.
Dear yellow..
Ketika menjadi putih dulu,aku tidak mengenal hitam.Ketika menjadi biru dulu, aku tidak mengenal jingga, dan ketika menjadi kelabu dulu aku dapat mengenal pelangi.bukan kulihat tapi kurasa.
Dear yellow..
Dalam rasaku aku dapat menghirup aroma bunga dan semilir angin syuga.Dalam rasaku sebagian yang lain aku dapat menghirup wewangian emosi yang sangat menyengat indra penciumanku, aku dapat menghirup kesemerbakan kecerobohan dan egoisme yang benar alami.oh…sungguh insan yang paling murni.
Dear yellow..
Suatu hari kutanya pada Yang Esa, “ apa ini yang disebut perjalanan sebelum aku tahu siapa engkau wahai Yang Esa “?. ‘’Apa ini isi dari karyamu’’? Karya peralihan dari Adam dan Hawamu?Dan Yang Esa tidak menjawab..tidak dengan bisikan sekalipun!!!
Dear yellow..
Jawaban terus kupikirkan sendiri,mandiri untuk mencari jawaban dari pertanyaan bodohku untuk Yang Esa.Hariku lelah mencari jawaban,masa ku sebagian hilang, nyaris lunglai tenggelam dalam pertanyaan.
Dear Yellow..
Rasanya aku ingin tertawa sekencangnya,teriak dan bersorak yang jauh dari merdunya suara sang primadona.hahaha..Apakah kau tau jawaban itu? Jawabannya ada dalam sanubarimu,sanubariku,sanubari setiap hakiki. Di sepanjang perjalanan sampai tidak ada nadir sebagai sang penyetir.

Jakarta Cerah, 31 Oct 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar